Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki,( 67, 834 / 883-901)
SEJARAH PAUS

Ensiklik & Surat Paus

Dokumen KV 2

No:
masukkan no. yang dikehendaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi -(catatan kaki lihat versi Cetak)

23. St. Stefanus I (254-257)

Stefanus lahir di Roma. Ia terpilih menjadi paus pada 12 Mei 254. Kepemimpinannya atas Gereja berlangsung antara masa pemerintahan Kaisar Desius dan Valerianus yang diwarnai dengan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Paus Stefanus terkenal luas karena membela sahnya permandian yang diberikan oleh seorang bidaah yang telah bertobat. Pembelaan itu dilancarkannya sebagai perlawanan terhadap Siprianus Uskup Kartago bersama Uskup Afrika dan Asia Kecil lainnya yang mengajarkan bahwa permandian yang diberikan oleh seorang bidah tidaklah sah karena pribadi pelayannya berada dalam keadaan berdosa dan karena itu tidak pantas melayani sakramen. Dalam pembelaannya, Paus Stefanus menekankankan bahwa rahmat sakramen berasal dari Kristus sendiri, bukan dari pribadi pelayannya.

Stefanus juga menghadapi masalah-masalah gerejawi di Spanyol dan Perancis, ketika Kaisar Desius melancarkan penganiayaan terhadap umat Kristen, dua orang uskup Spanyol, yaitu Martial dan Basilides, meninggalkan gereja. Keduanya melakukan beberapa kesalahan serius yang merugikan Gereja dan mencemarkan iman Kristiani.

Di Perancis, uskup-uskup Perancis memohon kepada Paus Stefanus agar memberhentikan Uskup Marsianus dari Arles, yang tidak mau menerima kembali orang-orang murtad yang sudah bertobat. Karena paus tidak segera menanggapi permohonan itu, uskup-uskup Perancis meminta bantuan Siprianus, uskup Kartago untuk menangani masalah ini. Tapi kemudian Paus Stefanus memecat USkup Marsianus yang terus berpegang pada ajaran Novatianisme, dan dan menggantinya dengan uskup lain. Paus Stefanus dengan setia mendampingi umat dalam masa penganiayaan itu. Ia wafat sebagai martir, kepalanya dipenggal di saat dia duduk di kursi Kepausan dalam suatu ibadat di katakombe Santo Kallikstuspada 2 Agustus 257.